Kürtőskalács, adalah pastry yang dikenal oleh masyarakat Hungaria. Pada awalnya, makanan ini hanya dibuat saat acara perayaan khusus, dan saat ini telah menjadi makanan sehari-hari. Makanan sejenis pastry, yang telah populer sejak pertengahan abad ke 19 ini, memiliki tekstur yang garing di luar dan lembut di dalam, kalau dicicipi, sekilas mirip roti sisir di dalamnya, dengan kulit yang garing dan gurih di luar, dan biasanya bagian luar kue diberi topping aneka ragam, mulai dari kacang kacangan, coklat, serta aneka rasa lainnya. Untuk saya, ditaburi gula pasir dan butter saat keluar dari oven, rasanya sudah nikmat, enak dimakan hangat bersama teh atau kopi di sore hari.

"Pekerjaan Rumah (baca: pe-er)" dari KBB kali ini tidak lain tidak bukan, ya Kurtos Kalacs ini.





Kali ini postingannya berupa cerita milih calon presiden, dan bukan tentang bikin tantangan masak, atau menceritakan pengalaman makan di sebuah tempat, atau pengalaman naik taxi.

Setelah sekian lama menanti sosok Ksatria yang mampu memimpin bangsa Indonesia, di tahun 2014 ini masyarakat Indonesia kembali diberikan kesempatan untuk memutuskan sebuah keputusan besar untuk masa depan sebuah bangsa, yaitu memilih satu di antara dua calon ksatria penyelamat nasib rakyat Indonesia di masa yang akan datang.

Agak membingungkan bagi masyarakat untuk menentukan pilihan, karena kedua calon pemimpin bangsa ini mengklaim adalah yang terbaik. Seperti biasa, para capres dan cawapres berkampanye selama waktu yang ditentukan oleh KPU, dan dalam PEMILU kali ini, akhirnya saya menemukan sebuah sensasi untuk harus mengikuti PEMILU dan TIDAK GOLPUT. Karena apa?




Menjadi "Golput" atau ikutan "nyoblos" pada Pemilihan Umum calon pemimpin Indonesia yang digelar setiap lima tahun selalu didasarkan atas berbagai harapan dan latar belakang tiap individu yang menjadi warga negaranya. Ada yang memiliki latar belakang seperti saya, ataupun alasan lainnya, kepentingan individu, dan sebagainya.

Saya ingin menceritakan pengalaman saya untuk menggunakan hak pilih saya di pemilihan umum tahun ini. Saya tidak memiliki informasi mengenai bagaimana menggunakan hak pilih saya tahun ini, karena saya harus bekerja di luar kota, dan saya tidak sempat datang ke tempat asal saya untuk sekedar 'nyoblos' ataupun mengurus formulir A5 karena kesibukan dan kondisi yang tidak memungkinkan.

Pada waktu H-3, saya diberikan informasi bahwa bisa datang ke TPS terdekat dengan membawa KTP yang berlaku. Tentu saja saya menjadi sedikit lega, karena bisa menggunakan hak pilih di perantauan. Apalagi saya dengar beberapa teman saya yang ber-KTP non domisili juga akan diijinkan nyoblos di TPS terdekat, dan kami diminta datang setelah jam 12 siang, seperti info dari sini,  makin semangat lah saya.

Pada hari H, saya datang ke TPS yang dimaksud dengan berbekal KTP dan modal semangat Pe De (Percaya Diri),jam 11.30.

Pejabat TPS (PT) : "Mo ngapain?"

Saya (S) : "Mo nyoblos"

PT : " Undangannya mana?"

S : " Oh, saya udah setahun lebih kan di sini, kemarin ada yang kasih info bisa nyoblos di TPS ini, bawa KTP aja"

PT : melihat saya dari atas ke bawah dengan teliti

S : Menunggu dikasi surat suara

PT : "Gak bisa. Kalo bawa surat dari kelurahan baru bisa. Lagian kan harus 7 hari yang lalu ngurusnya.", sembari garuk garuk idung, gatel mungkin yah..

S : "Loh, kok saya dikasih tau sama yang sebar undangan, boleh pake KTP ya?"

PT : "Gak ada info kayak begitu, maaf ya." Sambil gaya a la menolak pengemis di pinggir jalan.

S : "Kok info nya adi beda, mana yang bener nih?"

PT : " Iya." sambil garuk garuk idung lagi.

S : Mikir, kok iya doang sih jawabannya.

PT : Ngeliatin lagi satu satu kami dari atas ke bawah

S : "Oke, Anda yang gak bolehin saya milih. Makasih" sambil langsung ngeloyor pergi.


Sampai di rumah, entah mengapa hati saya galau. Seakan ada sesuatu yang salah. Saya terpaksa Golput dong. Saat semangat itu sudah terlanjur membara, saat harapan itu terlanjur kembang, saat penolakan itu terjadi tanpa penjelasan yang bisa memuaskan, saat....saat... ah, saya harus cari informasi yang benar nih.

Saya cek timeline twitter, dan menemukan banyak kasus yang sama seperti yang saya alami. Di beberapa TPS memang mengijinkan orang dari luar daerah domisili nya untuk mencoblos di sana, namun banyak yang ditolak dan tak diijinkan menggunakan hak pilihnya seperti yang saya alami tersebut.
Banyak dari mereka yang galau, dan bingung harus melakukan apa untuk mendapatkan hak pilihnya.

"Seumur-umur, baru kali ini saya ngerasain galau loh..."
"Saya ditolak nyoblos di tempat tinggal saya sendiri, hanya karena tidak terdaftar, padahal saya sudah lapor, rasanya....sakit...jleb"
"Katanya yang jaga TPS, kalo nyoblos ga pake surat undangan dia bakal dipenjara, nah ini gw punya KTP Indonesia, punya formulir A5, ya masa ga dibolehin nyoblos juga sih..."
"Aku ditolak nyoblos di 2 TPS berbeda, dan bela belain drive berpuluh km, cuma buat nyoblos,ckckckckk..."
"Kita ditolak juga nih, dan kita cari TPS lainnya buat nyoblos, dan dah dapet TPS yang mau kasi kita hak pilih yang memang milik kita, buat nyoblos, ayo semangaaatttt.. cari TPS lain yang punya hati!!"

Demikian kicauan mereka, para warga twitter.

Saat saya menghubungi kerabat saya, ternyata ada sebuah TPS yang mengijinkan warga nya menggunakan hak pilih tanpa dilarang atau dipersulit. Tanpa pikir panjang, saya langsung menuju ke sana, membutuhkan waktu yang agak panjang untuk datang ke sana. Entah apakah saya bisa atau tidak, namun saya akan berusaha endapatkan hak pilih saya. Demikian tekad saya bersama teman-teman.

Jam satu tepat, saya parkir mobil, dan harus berjalan lagi menuju TPS. Kira-kira jam satu lewat saya tiba di sana.

PT 1 : "Siang mbak. Silakan..."

PT 2 : "Dah selesai"

S : "Siang, masih bisa kan ya?"

PT 1 : "Oh, maaf, sudah selesai."

PT 3 : "Apa sudah habis surat suara nya? Kasih aja lah, orang mo nyoblos."

PT 2 : "Gimana ini, diijinkan atau tidak?" bertanya kepada anggota lainnya sambil menggerakkan tangan seperti burung mengepakkan sayapnya.

Terlihat seorang berpakaian seragam dengan tulisan Panwaslu

Petugas Panwaslu (PP) : "Aturannya jam 13.00 selesai. Sekarang sudah ditutup. maaf."

S : "Yah, Pak, saya tadi di sana ditolak, masa di sini ditolak lagi, kan tutupnya belum lama."

PP : "Iya, peraturannya memang begitu. maaf ya. " Sambil mempersilakan saya keluar area TPS

S : "Tapi, saya golput dong Pak. "

PP : " Ya, gak golput, cuma sudah terlambat."

S : "Ya itu kan namanya golput, Pak. Bapak yang bisa kasi saya keputusan untuk golput atau tidak, itu ada di tangan Bapak. Itu tergantung kebaikan hati Bapak. Apakah saya mendapatkan hak saya atau tidak, itu tergantung atas kebijakan Bapak."

PP : "Iya, gak bisa."

PT 3 : "Ya diberikan juga ga apa apa kok Pak. Kita masih banyak surat suaranya."

PT 2 : " Tahun depan aja nyoblos lagi ya"

S : "Hah? Tahun depan?"

PT 3 : " Emang ada lagi tahun depan?"

PP : " Gimana ya, aturannya begitu memang, sudah ditutup."

S : " Jadi, gak bisa nih Pak, ayo lah Pak. Tolong saya, saya ke sini jauh jauh loh."

PP : "Maaf.." Sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada.

S : "Ya sudah, terimakasih kalau begitu ya Pak. " Sambil menundukkan kepala, dan berjalan keluar dengan langkah gontai.

PP : Meihat saya beserta teman yang sedih dan galau

S : Melihat ke arah Pak PP penuh rasa sesal dan kecewa, dan berkata dalam hati, perjuanganku tak berhasil kali ini. Kembali melihat ke arah Pak PP dan berjalan pelan menuju parkiran. Hati saya gundah gulana tak lagi bersemangat.

Tiba-tiba ada teriakan, dan saya lihat beberapa orang dari TPS itu memanggil saya dan teman-teman.

Saya lalu kembali dan melihat mereka penuh kegembiraan.

PT 3 : " Mana ini surat suaranya" Sambil tersenyum ke arah kami

PP : tersenyum sambil mengangguk saat saya mengatakan terimakasih

PT 2 : "Sini, sini... di sini.. ayo nyoblos. Ini terakhir ya." Sambil membesarkan volume suaranya, karena ternyata di belakang kami masih ada yang mau nyoblos juga, namun terpaksa ditolak, dan mereka menyerah tanpa argumen.

S : Langsung mencoblos

PT 2 : "Ini tinta nya. Buat bukti udah nyoblos."

S : "Terimakasih Pak, Bu, terimakasih... terimakasih banyak..."

Seluruh isi TPS : "Iya" sambil tersenyum

PT 2 : "Nih, makasih sama yang ini nih..." sambil menunjuk Pak PP dan seorang lainnya.

S : "Terimakasih Pak PP. Tuhan yang balas kebaikan Bapak"

PP : "Iya, sama-sama. " sambil tersenyum

Keluar TPS, hati saya lega sekali, dan bersyukur bisa menggunakan hak pilih saya sebagai warga negara Indonesia.

Kemenangan saya hari ini, bukan karena pilihan capres/cawapres yang unggul di ajang hitungan cepat PEMILU, namun saya menang karena berhasil memperjuangkan hak pilih saya.

Andaikan sistem di Indonesia lebih pro rakyat dan informasinya tersampaikan dengan lebih baik dalam membebaskan masyarakatnya untuk menggunakan hak pilih, andaikan para pemimpin yang dipercayakan memimpin dan dberikan kekuasaan untuk memimpin rakyat dalam skala terkecil sampai yang terbesar mau peduli dan memiliki hati dan kebijaksanaan untuk melihat manusia lain sebagai individu yang juga punya hati dan perasaan, andaikan semua orang mau saling peduli dan memiliki tanggung jawab membesarkan negeri ini, dan andaikan apa yang diandai-andaikan masyarakat selama ini menjadi kenyataan.

Ayo, perjuangkan hak dengan kecerdikan, dan mari lakukan kewajiban dengan ketulusan.


Selamat Datang!!
di Depot Mie 55
Dibuka Sejak 1982

Demikian sambutan yang akan didapatkan ketika memasuki sebuah Depot (sebutan yang populer untuk rumah makan di daerah Surabaya, Jawa Timur) di area ramai Jalan Ahmad Yani di Surabaya. Melihat tahun bukanya, saya langsung tertarik, karena memang saya penggemar masakan a la Chinese dengan citarasa klasik alias jadoel.
Berbeda dengan rumah makan Chinese Food modern yang ini, Depot Mie 55 bergaya lebih klasik namun tidak mengurangi kenyamanan pengalaman kuliner di kota Surabaya.

Kali ini saya mencicipi beberapa masakan di depot ini.

Saat menerima email bahwa saya mendapat kesempatan mencoba produk Sushi Don: Cheesebury Roll dari tim Yukcoba.in, senang bukan kepalang =D
Saya tunggu tunggu kedatangan makanan yang terkenal di negara nya 'Nobita dan Doraemon' ini. Saat itu kiriman penganan khas Jepang ini datang saat malam, dan saya baru selesai makan malam...hahahahaaa... Jadilah saya simpan di dalam kulkas untuk dimakan keesokan hari.

Setelah dipanaskan, saya sibuk mencicipi Cheesebury Roll ini.




Soooo excited, deg-deg an... apa rasanya yaaa?? 

Makan Sepuasnya di hotel memang menyenangkan, dengan keramahan staff yang melayani dengan penuh senyuman, pemandangan lobby yang cantik, sambutan yang menyenangkan, apalagi kalau makanan yang disajikan cocok di lidah, dan datang bersama keluarga atau orang-orang tersayang di hari Libur, hmmm.. nyamannya..

Kali ini saya diundang mencicipi makanan "all you can eat" di Hotel Garden Palace, Surabaya. Hotel bintang 4 yang terletak di pusat kota yang ramai ini, sudah sejak 1984-an menjadi salah satu hotel favorit apabila berkunjung ke kota Sura dan Buaya ini. Setelah renovasi gedung di tahun 2012, Hotel Garden Palace terus mempercantik tampilan serta layanan yang diberikan.

Ada beberapa tempat makan di hotel ini, kali ini saya membagikan cerita makan siang saya di Green House, salah satu tempat makan yang buka 24jam di Hotel Garden Palace.


"Gerbang" Green House



Yuhuuuuuu........ Bulan Maret ini di tengah ribetnya lapor pajak, datanglah tantangan dari Klub Berani Baking,  membuat kue yang sudah diciptakan di bumi Indonesia raya tertjintah sejak doeloe kala, *drum roll....
Lapis Legit..
Terbayang-bayang telor yang buanyak bangeth ituh, melapis adonan satu per satu, dan cerita gagal dari banyak teman yang berani berani nyobain bikin lapis legit ini, wah...wah...

Seperti biasa, diperlukan keberanian dan mental yang cukup di kala harus menaklukan tantangan dari KBB #macam mo perang sajah lah.. Dan kali ini, benar-benar perjuangan. Lapis Legit yang kubuat jadi mini, ukurannya setengah lapgit biasanya, karena kegedean loyang, itu baru pendahuluan.....

Kasi intip dulu lah hasil akhirnya....




Begini ceritanya...



Baguette, atau diperkenalkan oleh ibunda saya sebagai "Roti Pentung" karena produk ini dijual dengan bentuknya yang panjang bulat seperti pentungan di toko kue dan roti di Indonesia.
Roti yang terkenal di negara Perancis ini biasanya dimakan dengan sup krim kental, atau dibuat roti bawang putih (garlic bread), favorit saya, dipotong potong dan diberi olesan mentega dan gula pasir lalu dipanggang,hmmmm.. Ada dua versi yang saya buat dari resep si "Roti Pentung" ini....


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...